TUGAS
KONSERVASI TANAH DAN AIR
“Metode-Metode Konservasi Tanah Dan
Air”
Julani Buton ( 2012-82-106 )
PRODI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2015
Metode
Konservasi Tanah dan Air
Ada 3 metode dalam dalam melakukan
konservasi tanah dan air yaitu metode fisik atau
mekanik dengan pegolahan tanahnya, metode vegetatif dengan memanfaatkan
vegetasi dan tanaman untuk mengurangi erosi dan penyediaan air serta metode
kimia yaitu memanfaatkan bahan-bahan kimia untuk mengawetkan tanah.
1.
METODE VEGETATIF
Pemanfaatan lahan yang tidak
mengindahkan upaya pengawetan tanah, akan mengakibatkanmenurunnya produktivitas
lahan, bahkan dapat menimbulkan erosi. Apalagi jika lahan tersebut berada di
sekitar aliran sungai (DAS).Kerusakan daerah aliran sungai sangat erat
hubungannya dengan kelestarian hutan di daerah hulusebagai daerah tangkapan
hujan.Apabila hutan mengalami kerusakan, maka dapat dipastikan terjadi pada
daerah aliransungai. Untuk itu berusah tani didaerah DAS,harus di ikuti
konservasi lahan.Agar kelestarian sumber daya alam dan keserasian ekosistem
dapat memberikan manfaatyang berkesinambungan maka pengelolaan DAS harus
dilakukan sebaik mungkin,yang meliputi:
§ Pengelolaan sumber daya alam yang dapat
diperbaharui.
§ Kelestarian dan keserasian ekosistem(lingkungan
hidup)
§ Pemenuhan kebutuhan manusia yang berkelanjutan
§ Pengendalian hubungan timbale balik antara sumber
daya alam dengan manusia.Usaha pokok dalam pengawetan tanah dan air meliputi:
1.
pengelolaan
lahan
§ sesuai kamampuan lahan.
§ Mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah.
§ Melindungi lahan dari ancaman erosi dengan menanam
tanaman penutup tanah.
§ Penggunaan mulsa.
2.
pengeloalaan air
§ jumlah air yang memadai
§ kwalitas air
§ tersedia air sepanjang tahun
3.
pengelolaan
vegetasi
pengelolaan
vegetasi pada hutan tangkapan air maupun pemeliharaan vegetasi sepanjangaliran
sungai, dapat ditempuh dengan cara:
§ penanaman dengan tanaman berakar serabut seperti
bamboo yang sangat di anjurkan di pinggiran sungai, kemudian diikuti dengan
rumput makanan ternak.
§ Penanaman tanaman semusim untuk lahan yang tidak
memiliki kemiringan.
§ Pembuatan teras. Bila pada lahan tersebut terdapat
kemiringan maka perlu di buat teras,dan pada lahan kemiringan 5-10% di bangun
teras kredit , lahan berbukit dengan kemiringan 10-30% di buat teras bangku,
dan lahan dengan kemiringan lebih dari 30% di buat teras individu.
4.
usaha tani
konservasi
Usaha tani
konservasi adalah penanaman lahan dengan tanaman pangan serta tanamanyang
berfungsi untuk mengurangi erosi(aliran permukaan) dan mempertahankan
kesuburantanah.
Prinsip usaha tani konservasi:
§ Mengurangi sekecil mungkin aliran air permukaan dan
meresapkan airnya sebesar mungkin kedalam tanah.
§ Memperkecil pengaruh negative air hujan yang jatuh
pada permuakaan tanah.
§ Memanfaatkan semaksimal sumber daya alam dengan
memperhatikan kelestarian.
Cara usaha konservasi:
§ Metode vegetatif
§ mekanik atau teknik sipil
§ Metode kimia.
Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau
tumbuhan dan sisa-sisanya untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh,
mengurangi jumlag dan daya rusak aliran permukaandan erosi.
Fungsi dari metode vegetatif adalah:
§ Untuk melindungi tanah terhadap daya perusak butir-
butir hujan yang jatuh.
§ Untuk Melindungi tanah terhadap daya perusak aliran
air di atas permukaan tanah.
§ Untuk memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan
penahan air yang langsungmempengaruhi besarnya aliran permukaan.

Teknologi pengendalian atau pencegahan erosi.
Usaha untuk mencegah dan atau
mengendalikan erosi ,ada beberapa faktor yangmempengaruhi terjadinya erosi
seperti: faktor iklim, tanah, bentuk wilayah(misalnyakemiringan), vegetasi
penutup tanah dan kegiatan manusia.
Prinsip-prinsip dari usaha pengendalian erosi
adalah:
§ Memperbesar resistensi permukaan tanah sehingga
lapisan permukaan tanah tahanterhadap pengaruh tumbukan butir-butir air hujan.
§ Memperbesar kapasitas infiltrasi tanah, sehingga
lajunay aliran permukaan dapatdiredusir.
§ Memperbesar resistensi tanah sehingga daya rusak dan
daya hanyut aliran permukaanterhadap partikel-partoekl tanah dapt diperkecil
atau diredusir.
Secara umum, tujuan penerapan teknologi
konservasi adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan secara maksimal,
memperbaiki lahan yang rusak/kritis, dan melakukan upaya pencegahan kerusakan
tanah akibat erosi, Beberapa teknologi yang telah dihasilkan oleh keltiKR2L
adalah sebagai berikut:
1.
Teknik
pengendalian erosi
§ Metode sipil teknis (misal: teras, rorak)
§ Metode vegetatif (misal: strip rumput, alley
cropping)2. Teknik konservasi dan pengelolaan air
§ Teknik konservasi air (misal: parit buntu, check
dam)
§ Teknik irigasi (misal: penelitian irigasi sprinkle,
penelitian irigasi tetes, penelitian irigasi permukaan) .
Pada metode vegetatif yang berperan adalah tanaman,
dimana tanaman-tanaman itu berperan untuk mengurangi erosi,yaitu dalam hal:
1.
batang, ranting
dan daun-daunannya berperan mengahalangi tumbukan tumbukan langsung butir-butir
hujan kepada permukaan tanah, dengan peranannya itu tercegahlah penghancuranagregat-agregat
tanah.
2.
daun-daun
penutup tanah serta akar-akar yang tersebar pada lapisan permukaan tanah
berperanmengurangi kecepatan aliran permukaan(run off), sehingga daya kikis,
daya angkutan air pada permukaan tanah dapat direduksi, diperkecil ataupun
diperlamban.
3.
daun-daunan
serta ranting-ranting tanaman yang jatuh akan menutupi
permukaantanah,peranannya sebagai pemulsa tanah yang dapat mengurangi kecepatan
alairan permukaanserta melindungi permukaan tanah terhadap daya kikis air.
4.
akar-akar
tanaman memperbesar kapasitas infiltrasi tanah,tunjangan dalam
meningkatkanaktivitas biota tanah yang akan memperbaiki porositas, stabilitas
agregat serta sifat kimia tanah.
5.
akar-akar
tanaman berperan dalam pengambilan atau pengisapan air bagi keperluan
tumbuhnyatanaman yang selanjutnya sebagian diuapkan (evaporasi) melalui
daun-daunannya ke udara.Peranan tanaman dalam metode vegetatif mempunyai
Kegiatan-kegiatan yang dilakukandalam usaha pengendalian erosi dan atau
pengawetan tanah yaitu:
§
Penghutanaan
kembali dan penghijauan
a.
Penghutanan
kembali atau reboisasi
Tanah-tanah yang gundul akibat perusakan
hutan dan tanaman keras lainnya, harus di perbaiki dan dipulihkan
kelestariannya, jalan yang dapat di tempuh adalah dengan reboisasi atau
penghutanan kembali.reboisasi adalah penghutanan kembali tanah-tanah yang
gundul denganditanami tanama-tanaman keras.Terdapat dua cara dalam mencegah
reboisasi adalah cara banjar harian dan cara tumpangsari.Cara banjar harian,
petani menerima upah untuk penanaman dan pemeliharaan tanamanreboisasi.
Sedangkan cara tumpang sari , petani mendapat kesempatan untuk menanam
palawijaselama beberapa musim di antara tanaman reboisasi.
b.
Penghijauan
Penghijauan adalah penanaman tanah-tanah
rakyat dan tanah-tanah lainnya seperti tanahdesa, tanah bebas(negara) tanah
bekas perkebuanan yang umumnya telah mengalami kerusakan-kerusakan, baik yang
ada di daratan tinggi maupun daerah aliran sungai yang kesemuanya beradadi luar
kawasan hutan, dengan berbagai pohon=pohonan terpilih dan atua rumput-ruputan
denganmaksud untuk pengwetan tanah (pencegahan erosi) dan dapat memberikan
tambahan pendapatan bagi para petani atua pemilik tanah yang bersangkutan.
§ Penanaman secara garis kontur
Penanaman secara garis kontur sangat
diperlikan dan harus di perhatikan kalau keadaanmempunyai kemiringan, jadi
penanaman secara garis kontur ialah penanaman tanaman yangsearah atau sejajar
dengan garis kontur atau dengan secara menyilang lereng tanah, bukanmenjurus
searah dari atas kebawah lereng. Dengan demikian maka tindakan –tindakan untuk
mengolah tanah seperti membajak, menggaru, menyiapkan bedengan-bedengan,
pembibitan dan pembuatan bedengan atau larikan tanaman haruslah sejajar dengan
garis kontur tersebut (contour cropping system).
§ Penanaman tanaman penutup tanah
Tanaman-tanaman penutup permukaan tanah
berperan untuk melindungi permukaantanah dari daya dispersi dan daya penghancur
oleh utir-butir hujan.Selain itu berperan pula dalamhal memperlambat aliran
permukaan serat melindungi tanah permukaan dari daya kikis aliran permukaan.
Tanaman penutup permukaan besar pula samabungannya dalam memperkaya bahan-
bahan organik tanah serta memperbesar porositas tanah.Tanaman penutup tanah
yang rendah dalam wujud pertumbuhan dapat terdiri atas jenis- jenis:tanaman
alternanthera amoena voss atau bayam krema,ageratu conizoides L atau babadotan,
rasim atau sintrong,bulu lutung, calincing dll.
§ Penanaman tanaman dalam larikan (strip cropping)
Cara yang efektif dalam pengendalian erosi atau
pengawetan tanah yaitu membuatlarikan –larikan secukupnya, pada lariakn
–lariakn pertama yang searah dengan garis kontur itudipahami rumput-rumputan
atau tanaman pupuk hijau.Strip cropping adalah untuk memperlambat lajunya
aliran permukaan, larikan-larikan tanaman penutup tanah dimaaksudkan pula untuk
melindungi lariakn-larikan tanaman palawiaj dari aliran permukaan tersebut. Di
lihat pada gambar 1:

Ada
3 tipe (Kell & Brown, 1938; Tower & Garden, 1946)
1.
Menurut kontur

2.
Strip Lapangan
Lebar seragam,
melintang lereng, dilakukan pada daerah dengan topografi tidak seragam

3.
Penanaman strip berpenyangga (buffer strip cropping)
- Strip rumput/legume dibuat datar
engan strip-strip tanaman pokok
- Lebar strip bisa seragam / tidak
- Strip rumput diletakkan pada
lereng yang kritis
§ Penggiliran tanaman (crop ratation)
Penggiliran tanaman adalah suatu sistem bercocok
tanam pada sebidang tanah yangterdiri dari beberapa macam tanam yang di tanam
secara berturut-turut pada waktu tertentu,setelah masa panennya kembali lagi
pada tanaman semula.Manfaat penanaman secara demikian yaitu selain untuk
mengurangi keberlangsunaganerosi, juga untuk :1.meningkatkan produksi pertanian
dan atau pendapatan petani per satuan luas dalam suatukurun waktu.2.meratakan
pemanfaatan tanah-tanah yang kosong3.memperkaya variasi menu petani4.memperkecil
risiko kegagalan panen5.memperbaiki kesuburan tanah6.mengurangi biaya
pengoalahan tanah7.memelihara keseimbangan biologis.
Beberapa bentuk dalam penggiliran tanaman seperti:
v sequental planting atau penanaman tanaman secara
beruntun,dalam hal ini menanam ataumenumbuhkan tanaman berikutnay sesegera
mungkin setelah tanaman terdahulu di panen.
v Mixed cropping atau melakukan pertanaman tanaman
campuran, dua jenis tanaman ataulebih tanpa mengabaikan tanaman pupuk hijan
atau tanaman penutup permukaan ditanam sserentak pada waktu yang sama.
v Inter cropping dapat pula di sebut tumpang sari
berbeda umur.
v Inter culture, dalam hal in misalanya tanaman
semusim atau tanaman yang berumur pendek
di tanam di antara tanaman tahunan.seperti: kacang tanah di tanam di
antaratanaman pepaya, kacang-kacangan di tanam diantara pohon jeruk dan lain
sebagainya.
§ Penggunaan serasah (mulching)
Mulching ataun pemulsaan yaitu menutupi
permukaan tanah dengan serasah atau sisa-sisa tanaman benar-benar berkemampuan mencegah
berlangsungnay erosi, dikarenakan pemulsaan akan melindungi tanah permukaan
dari daya timpa butir-butir huajn, dan melindungitanah permukaan tersebut dari
daya aliran air di permuakaan.Pemulasaan tanah dapat pula mempertahankan
kelembaban dan suhu tanah, sehinggadapat memperbaiki pengambilan zat hara oleh
akar tanaman. Serasah atau sisa-sisa tanamanyang melapuk akan memperkaya bahan
organik dalam tanah,dengan demikian sifat fisik dantanah dapat di perbaiki
pula.
Faktor-faktor pembentukan tanah
Proses pembentukan tanah di Daerah
Aliran Sungai Babon dicerminkan oleh pengaruhfaktor-faktor iklim, topografi,
bahan induk, organisme, dan waktu, sehingga karakter tanahdipengaruhi oleh
interaksi kelima faktor tersebut. Pengaruh faktor iklim ditandai oleh curahhujan
tahunan rata-rata relatif tinggi, yakni 2.202 mm (Semarang) dan 2.770 mm
(Ungaran).Tipe iklim daerah ini tergolong agak basah hingga basah (Schmidt dan
Ferguson), dengandemikian dapat dikategorikan ke dalam regin lengas tanah
udik.Topografi daerah ini bervariasi, yakni datar, berombak, bergelombang,
berbukit dan bergunung. Wilayah datar menempati lereng bawah di bagian utara,
wilayah berombak dan bergelombang terletak pada bagian lereng tengah, dan
wilayah berbukit dan bergunung meliputilereng atas di lokasi bagian selatan.
Bahan induk pembentuk tanah di wilayah lereng bawah berupa batuan sedimen resen
yang tersusun dari lempung, lanau dan pasir yang tidak padu. Diwilayah lereng
tengah dan lereng atas batuan induk penghasil bahan induk tanah berupa batuan
beku dan batuan sedimen sub-resen terdiri dari andesit, yakni sebagai breksi
andesit harblendeaugit.Pembentukan tanah di lahan bawahan pada beberapa bagian
terjadi dalam lingkungan basah (jenuh air). Oleh karena selalu jenuh air, maka
proses reduksi dan oksidasi menjadidominan, sehingga menyebabkan tanah-tanah
berwarna kelabu, sedang di bagian wilayah peralihan fluktuasi muka air tanah
menyebabkan proses reduksi dan oksidasi berlangsung secara bergantian yang
dicirikan dengan adanya karatan (mottcing) berwarna kuning hingga merah.Pada
lahan atasan, terutama di wilayah topografi berbukit dan bergunung tingkat
perkembangan tanah bervariasi dari lemah hingga kuat, akibatnya solum tanah
juga bervariasimulai dari sangat dangkal (< 25 cm) sampai dengan sangat
dalam (> 120 cm) .
Klasifikasi tanah
Klasifikasi tanah di daerah ini disusun
berdasarkan pada data sekunder dan pengamatanserta pengukuran di lapangan
melalui profil tanah, pemboran tanah, pengamatan kondisilingkungan, yang
dilengkapi data hasil analisis laboratorium dari contoh tanah
pewakil.Pengamatan dan pengukuran mencakup sifat fisik tanah, yakni : warna,
tekstur, struktur,konsistensi, drainase, bahan induk, dan lain-lain; sifat
kimia tanah, yakni : pH, kadar bahanorganik, kadar kapur, N-Total, P tersedia,
K tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa, kejenuhan Al, dan
lain-lain. Berdasarkan terminologi tersebut tanah-tanah daerah ini terdiri dari lima jenis tanah
yakni Alluvial, Kambisol, Regosol, Latosal, dan Litosal.
Erosi tanah
Perkembangan bentuk-bentuk erosi tanah,
seperti erosi lembar (sheet erosion), erosi alur (rill erosion), dan erosi
parit (gully erosion) di masa mendatang sangat tergantung pada tingkat bahaya
erosi tanah. Di samping itu, perencanaan konservasi tanah memerlukan data
tentangtingkat bahaya erosi tanah. Bahaya erosi tanah adalah keadaan yang
memungkinkan bahwa erositanah akan segera terjadi dalam waktu yang relatif
dekat, atau dalam hal apabila erosi tanah telahterjadi di suatu daerah, maka
bahaya erosi tanah adalah tingkat erosi tanah yang akan terjadi dimasa
mendatang.Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah adalah iklim, topografi
tanah, vegetasi, dantindakan manusia terhadap lahan. Faktor-faktor erosi tanah
yang sifatnya relatif permanen, yakni iklim, topografi, dan tanah menentukan
besar erosi potensial dan apabila faktor-faktor tersebutditambah dua faktor
lainnya yakni vegetasi dan tindakan manusia terhadap lahan menentukan bahaya
erosi aktual. Bentuk-bentuk erosi di daerah survei terutama erosi lembar dan erosi
alur pada wilayah lereng tengah, sedang
pada lereng atas dijumpai bentuk erosi parit.
TBE (Tingkat Bahaya Erosi) adalah
perkiraan jumlah tanah yang hilang maksimum yangakan terjadi pada suatu lahan,
bila pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi tanah tidak mengalami
perubahan. Penentuan TBE pada setiap unit lahan didasarkan pada perkiraan
jumlahtanah hilang maksimum (A) dan tebal solum dari unit lahan yang
bersangkutan.
Mengingat bahwa dalam menentukan TBE
diperlukan data laju erosi dan data tebalsolum pada setiap bentuk lahan, maka
dilakukan pengamatan di lapangan terhadap tanah,topografi, penggunaan lahan,
jenis tanaman dan pola tanam serta tindakan konservasi tanah yangditerapkan.
Selanjutnya dari peta kemampuan lahan
dan peta tanah, serta pengamatan di lapangan, makaketebalan solum tanah di
wilayah DAS Babon dapat diketahui.
Tabel Kedalaman Solum
|
Ketebalan
solum Tanah
|
Keterangan
|
|
> 90
|
Dalam
|
|
60 - 90
|
Sedang
|
|
30 – 60
|
Dangkal
|
|
< 30
|
Sangat dangkal
|
Sumber : BRLKT
(1991).
Untuk
selanjutnya tingkat bahaya erosi (TBE) yang ditentukan dari tingkat laju erosi
(A) dantebal solum tanah dinyatakan sebagai berikut :Tabel Pembagian Klas
Tingkat Bahaya Erosi
|
No
|
Tebal
Solum (cm)
|
Tingkat Laju
Erosi ( ton/ha/tn )
|
||||
|
I
( < 15 )
|
II
( 15 – 60 )
|
III
( 60 – 180 )
|
IV
(180 – 480 )
|
V
( > 480 )
|
||
|
1
|
Dalam
( > 90 )
|
SR
|
R
|
S
|
B
|
SB
|
|
2
|
Sedang
( 60 – 90 )
|
R
|
S
|
B
|
SB
|
SB
|
|
3
|
Dangkal
( 30 - 60 )
|
S
|
B
|
SB
|
SB
|
SB
|
|
4
|
Sangat
Dangkal ( < 30 )
|
B
|
SB
|
SB
|
SB
|
SB
|
Konservasi sumberdaya lahan atau
konservasi tanah ialah upaya manusia untuk mempertahankan,meningkatkan,
mengembalikan atau merehabilitasi daya guna lahan (tanah)sesuai dengan
peruntukkannya.
Dalam pelaksanaan usaha konservasi tanah
perlu mempertimbangkan hal-hal berikut : bentuk-bentuk kerusakan tanah,
kemampuan lahan, tataguna lahan yang rasional, daya guna atau produktivitas
lahan yang optimal dan latar belakang sosial ekonomi penduduk.
2.
METODE FISIK
Atau MEKANIK
Cara mekanik
adalah cara pengelolaan lahan tegalan (tanah darat) dengan menggunakan sarana
fisik seperti tanah dan batu sebagai sarana konservasi tanahnya. Tujuannya
untuk memperlambat aliran air di permukaan, mengurangi erosi serta menampung
dan mengalirkan aliran air permukaan.
Termasuk dalam metode mekanik untuk
konservasi tanah dan air di antaranya pengolahan tanah. Pengolahan tanah adalah
setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan
keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah
adalah menyiapkan tempat tumbuh bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik,
membenamkan sisa-sisa tanaman dan memberantas gulma.
Pengendalian erosi secara teknis-mekanis merupakan usaha-usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan usaha-usaha perbaikan tanah secara mekanik yang ditempuh bertujuan untuk memperlambat aliran permukaan dan menampung serta melanjutkan penyaluran aliran permukaan dengan daya pengikisan tanah yang tidak merusak.
Pengolahan tanah menurut kontur adalah setiap jenis pengolahan tanah (pembajakan, pencangkulan, pemerataan) mengikuti garis kontur sehingga terbentuk alur-alur dan jalur tumpukan tanah yang searah kontur dan memotong lereng. Alur-alur tanah ini akan menghambat aliran air di permukaan dan mencegah erosi sehingga dapat menunjang konservasi di daerah kering. Keuntungan utama pengolahan tanah menurut kontur adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air dan menghindari pengangkutan tanah. Oleh sebab itu, pada daerah beriklim kering pengolahan tanah menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi ini.
Pengendalian erosi secara teknis-mekanis merupakan usaha-usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan usaha-usaha perbaikan tanah secara mekanik yang ditempuh bertujuan untuk memperlambat aliran permukaan dan menampung serta melanjutkan penyaluran aliran permukaan dengan daya pengikisan tanah yang tidak merusak.
Pengolahan tanah menurut kontur adalah setiap jenis pengolahan tanah (pembajakan, pencangkulan, pemerataan) mengikuti garis kontur sehingga terbentuk alur-alur dan jalur tumpukan tanah yang searah kontur dan memotong lereng. Alur-alur tanah ini akan menghambat aliran air di permukaan dan mencegah erosi sehingga dapat menunjang konservasi di daerah kering. Keuntungan utama pengolahan tanah menurut kontur adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air dan menghindari pengangkutan tanah. Oleh sebab itu, pada daerah beriklim kering pengolahan tanah menurut kontur juga sangat efektif untuk konservasi ini.
Pembuatan terras adalah untuk
mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingkat-tingkat untuk mengurangi
kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air
yang meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi. Pembuatan terras
berfungsi untuk mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi
kecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan oleh tanah,
dengan demikian erosi berkurang.
Macam-macam
Metode Mekanik
1)
Pengolahan tanah (Tillage)
Perlakuan
meknis untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman
(sebagai tempat tumbuh bibit, daerah perakaran, membenamkan sisa tanaman, dan
memberantas gulma). Pengolahan Tanah
kurang / bahkan merugikan konservasi.
Pengolahan tanah
berorientasi konservasi:
§ Pengolahan tanah
seperlunya saja (minimum tillage)
§ Pengolahan tanah
pada kandungan air tepat (pF 3 – 4)
§ Pemberantasan
gulma menggunakan herbisida.
§ Merubah kedalaman
pengolahan
2)
Pengolahan tanah menurut kontur (contour
cultivation)
- Pembajakan tanah melintang / memotong lereng
- Lebih efektif jika diikuti penanaman menurut kontur
Keuntungan:
ô Terdapat
penghambat aliran permukaan
ô Memungkinkan
penyerapan air lebih besar ® di daerah
kering
ô Menghindarkan
pengangkutan tanah
3)
Guludan

4)
Guludan bersaluran

5)
Parit/Saluran Pengelak (diversion ditch)
Dibuat melintang
lereng, untuk menampung air dan mengalirkan ke saluran pembuang utama. Besarnya
tergantung laju puncak aliran yang terhitung.
6)
Teras
Teras
tangga/bangku


Teras berdasar lebar

Teras berdasar sempit

7) Balong/waduk,
Dam penghambat, Rorak, dan Tanggul
Berfungsi untuk mengurangi jumlah dan
kecepatan aliran permukaan, sehingga air dapat meresap ke dalam tanah. Selain
itu air yang tertampung juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain.
3.
METODE KIMIA
§ Penggunaan preparat kimia sintetis maupun alami
§ Untuk mendukung proses pembentukan agregat/struktur
tanah Sejak 1972 ditambah,
§ Merubah sifat-sifat hidrofobik/hidrofilik tanah
sehingga merubah kurva penahanan air.
§ Mengurangi dan meningkatkan Kapasitas Tukar Kation
(KTK) tanah memperngaruhi kemampuan tanah untuk menahan unsur hara
Preparat kimia SOIL CONDITIONER (Pemantap struktur
tanah)
Keunggulan:
-
Tahan terhadap serangan mikroba
-
Dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman semusin (pada
tanah liat berat)
-
Mempertinggi permeabilitas tanah sehingga erosi
berkurang.
a) MCS
-
Campuran dimethyldichlorosilane dan
methyl-trichlorosilane (Van Bavel,
1950)
-
Berupa cairan
yang mudah menguap, gas yang terbentuk bercampur dengan air tanah. Senyawa yang
terbentuk membuat agregat tanah stabil.
b) Krilium (W.P. Martin
& G. Taylor, 1952)
-
merupakan garam natrium dari polyacrylonitrile yang
terhidrolisa.
SOIL CONDITIONER mahal, maka dikembangkan bahan lain:
(a)
Polimer tak terionisasi: Polyvinyl alcohol (PVA)
(b)
Polyanion:
-
Polyvinyl acetate (PVa)
-
Polyacrylonitrile setengah terhidrolisa (Hp PAN)
-
Poly acrylic acid (PAA)
-
Vinyl acetate malcic acid copolymer (VAMA)
(c)
Polication: Dimethylaminoethylmetacrylate (DAEMA)
(d)
Dipole polimer (gugus + dan -) : Polyacrylamide (PAM)
(e)
Emulsi Bitumen
Kelompok a,b,c & d bersifat non hidrofobik;
Kelompok e bersifat non-hidrofilik; Kelompok b & e dapat meningkatkan KTK
Contoh penggunaan:
PAM bersifat non-hidrofobik, memiliki bagian aktif
amide yang mengikat -OH pada butir liat melalui ikatan hidrogen.

Cara aplikasi:
-
PAM dicampur air denganperbandingan volume tertentu
Dicampur tanah
dengan menyemprotkan emulsi tersebut ke permukaan tanah kemudioan diaduk dengan
cangkul/garu
Pengaruh
terhadap perbaikan struktur tanah dipengaruhi:
(1)
BM polimer, optimum PAM 106
(2)
Kandungan air tanah, optimum pada titik lengkung
terbesar pada kurva pF.
(3)
Konsentrasi emulsi, tanah berkadar liat tinggi lebih
sedikit daripada tanah berpasir.
Bitumen Preparat
termurah, mengandung gugus aktif Carboxyl
Pengaruh:
Menyebabkan tanah lebih hidrofobik sehingga sangat bermanfaat bagi pembentukan
agregat tanah yang mudah mengeras